Kisah Soiran, Guru Agama Tunanetra di Ponorogo

Share:
Kekurangan bukanlah batasan untuk melakukan hal baik. Selama ada niat, apapun bisa dilakukan. Seperti apa yang dilakukan Soiran, seorang guru agama yang terus membagikan ilmunya kepada masyarakat meskipun memiliki kekurangan dalam penglihatan. 

Soiran

Sosok Soiran
Kondisi kebutaan yang dialami pria yang lahir 39 tahun lalu ini tidak membuat semangatnya redup dalam mengajarkan ajaran agama islam. Setiap hari warga Desa Baosan Kidul, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo selalu datang ke sebuah sekolah dimana Soiran mengajar.

Soiran merupakan Alumni STAIN Ponorogo dan menguasai beberapa mata pelajaran agama, seperti Bahasa Arab, Fiqih, Tajwid, Akidah Akhlak hingga Alquran Hadist. Soiran memiliki cita-cita mulia ingin mengajarkan agama islam, tak hanya sekedar belajar membaca Alquran tetapi juga memahami Islam lebih luas ke masyarakat sekitar.

Beliau mengatakan bahwa kondisi kebutaan yang dialaminya bukan bawaan sejak lahir. Hal itu bermula saat ia duduk di kelas 3 SD, kemudian mata kanannya mengeluarkan air dan tiba-tiba saja ia tidak bisa melihat. Pada tahun 2012 hal tersebut juga terjadi pada mata kiri dan berakhir dengan kebutaan.

Putus asa sepertinya tidak ada dalam kamus hidup Soiran. Setelah kehilangan penglihatannya, beliau mengaku bersyukur karena kondisi tersebut justru menghindarinya dari perbuatan buruk. Anak sulung dari dua bersaudara ini mengatakan bahwa kondisinya tidak membebaninya selama ia masih bisa berguna bagi orang sekitar.

Perjuangan Soiran Mengajar
Selama 10 tahun terakhir setiap pagi Soiran dengan ditemani tongkat setianya berjalan menyusuri jalan berbatu dan naik turun sejauh 1,5 kilometer menuju sekolah tempatnya mengajar. Terkadang beliau mendapat tumpangan dari siswa atau tetangganya hingga tiba di sekolah.

Seperti tak kenal lelah, lelaki paruh baya ini mengajar di MTS pada pagi hari dan sorenya mengajari anak-anak di kampungnya membaca Al Qur’an. Kegigihan Soiran nampaknya memberikan efek positif juga pada warga di kampungnya. Saat ini tidak hanya anak-anak, para ibu-ibu pun ikut belajar mengaji dengan beliau.

Setiap sabtu hingga rabu sore Soiran mengajar anak-anak dan pada hari kamis dan jumat dikhususkan untuk ibu-ibu. Saat ini sudah ada 12 ibu-ibu yang ikut mengaji dengan beliau. Sebenarnya banyak yang tertarik ikut belajar mengaji dengan beliau, namun Soiran menolah dengan alasan ingin sukses mengajar angkatan pertama ini terlebih dahulu.

Pada tahun 2009 Soiran sudah membuka madrasah diniyah sendiri. Beliau ingin anak-anak di kampungnya sudah pandai membaca Alquran saat lulus SD dan sudah mengenal Islam sejak dini. Meski begitu Soiran masih berharap adanya bantuan dari pemerintah untuk madrasah diniyah yang ia dirikan.

Allianz Wakaf
Kegigihan Soiran dalam mendidik anak-anak di kampungnya patut diapresiasi dengan penghargaan Allianz Wakaf. Bantuan dari asuransi wakaf Alianz mungkin bisa membantu beliau mewujudkan harapannya membangun ruang sekolah yang lebih layak dan nyaman. Tujuan mulia dari Pak Soiran pantas untuk didukung demi kemajuan anak negeri. 

Anda bisa membantu Soiran-Soiran lain di luar sana dengan asuransi wakaf Allianz, di mana dana yang anda berikan akan dimanfaatkan untuk kepentingan orang banyak. Allianz Wakaf juga sudah terdaftar di Badan Wakaf Indonesia (BWI) sehingga semua dana yang disalurkan diawasi dan dilindungi. Laporannya pun terbuka dan bisa anda pantau sendiri.

Asuransi Wakaf merupakan salah satu cara bagi kita membantu orang-orang seperti pak Soiran yang terus berjuang untuk kepentingan masyarakat luas. Soiran hanya contoh kecil dari sekian banyak orang yang hingga saat ini terus berjuang untuk kebaikan dan kemaslahatan umat.

Tidak ada komentar